Goes to Padang

Hari ini mengawali tahun 2015, aku memulai perjalananku ke sebuah kota di Sumatra Barat. Padang. Kota inilah yang saat ini menjadi tujuanku bersama salah seorang temanku.Dan untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di luar pulau Jawa. Mungkin bagi kalian itu bukan sesuatu yang biasa saja. Tapi bagiku ini adalah pengalamanku yang bisa dibilang keren. Bersama temanku Amelia (anggap saja kami ini adalah petualang-petualang cantik haha). Kami berdua terbang ke Padang untuk mengunjungi salah seorang teman SMA'ku yang akan menikah. Mungkin bagi kalian itu sesuatu yang 'wow kok buang buang uang banget sih terbang ke padang cuma untuk kondangan' hohoho Tapi bagi kami berdua ini adalah pengalaman pertama kami. Malam itu dengan tiket suadh di tangan, kami mengawali perjalanan Purwokerto-Jakarta dengan kereta Gaya Baru Malam. Kereta kami berangkat pukul 21.00 menuju stasiun senen jakarta. Melewati malam tahun baru ini dalam perjalanan menuju ibu kota.
Terlihat di luar sana orang-orang merayakan malam pergantian tahun dengan menyalakan kembang api. Dengan tersenyum kami hanya turut menikmati pemandangan tersebut selama perjalanan. Subuh dini hari pukul 04.00 kami tiba di stasiun senen. Selamat Tahun Baru :) Keadaan masih sepi karena saat itu masih pagi buta. Kami segera mencari taksi untuk melanjutkan perjalanan menuju bandara soetta. Tak lama kami mendapat taksi dengan sopir yang ramah, dan bisa kami ajak ngobrol selama perjalanan. Bayanganku di awal adalah takut, karena sudah terpikir olehku kalau kota jakarta itu keras dan banyak orang yang bisa saja berniat jahat saat pertama kali bertemu. Seperti sopir taksi tadi yang kukira tak mungkin dia orang yang ramah. Ternyata dia telah tinggal cukup lama di jakarta demi memenuhi nafkah untuk istri dan anak-anaknya. Terimakasih pak telah mengantar kami dengan selamat di bandara.
Pukul 05.00 WIB. Masih terlalu pagi untuk check in. Kami memutuskan mencari toilet dan resto untuk mengganjal sedikit perut kami. Duduklah kami akhirnya di salah satu sudut bandara menikmati sarapan terlalu pagi kami dengan menu Nasi + Ayam Goreng, produk salah satu gerai fastfood ternama. Selesai makan kami langsung menuju counter check in. Pertama kalinya menginjakan kaki di bandara Soekarno-Hatta. 


Salah satu sudut ruang bandara Soetta pagi itu.

Yang kulihat bandara ini besar dan bukannya tak mungkin kita bakal bertemu orang-orang ternama di ibu kota. Sepanjang menuju gate penerbangan domestik, kami melihat sekeliling dan kami temukan beberapa spot menarik untuk berfoto. Kemudian karena gate yang dimaksud belum dibuka, kami menunggu di ruang tunggu yang telah disediakan. 1 menit 2 menit berlalu tanpa ada sesuatu yang menarik, hingga nomor flight kami akhirnya terdengar melalui pengeras suara. Berjalan perlahan menuju pesawat, aku menutupi rasa gugup dengan banyak berbincang dengan Amel. Mengingat baru pertama kali melakukan penerbangan dan aku masih belum tau apa yang akan terjadi di depan. Hohoho Waktu flight pun tiba, berpegangan cukup kencang saat pesawat melakukan take-off.


Pemandangan kota dari pesawat.

Langit cerah.

Terbang di atas awan dengan pemandangan menakjubkan. Semua yang terlihat dari atas itu selalu indah. Selama 1 jam lamanya aku dan Amel dibawa oleh burung besi ke tempat tujuan kami dengan selamat. 




Minangkabau International Airport

Kota padang benar-benar unik kalau kalian mau tau. Di sini semua bagian atas bangunan dibuat khas bentuk rumah minang. Takjub saat melihat bandara Minangkabau di Padang pun berdiri khas minang. Menurutku ini sangat keren. Kami pun melakukan foto bersama dengan latar bandara Minangkabau.
Dari kiri itu aku, Cita, Amel
Dari bandara kami masih harus melanjutkann perjalanan selama 5 jam menggunakan kendaraan roda 4 menuju sebuah desa di Pesisir Selatan. Pemandangan indah banyak kami lihat selama perjalanan. Tak henti hentinya aku berdecak kagum mengenal provinsi lain. Sesuatu yang unik pun kami lihat disini, yaitu angkutan umum di kota Padang ternyata benar benar tidak seadanya dan sudah pasti full musik.



Angkutan umum kota Padang.
 Kami melintasi sebuah pelabuhan yang namanya cukup terkenal. Kalau kalian lahir di tahun 90an mungkin pernah mendengar lirik lagu; 
...Air mata berlinang, tak terasakan olehku..
...Nantikanlah aku di Teluk Bayur..

Sebuah lirik lagu yang terkenal di masanya, mungkin orang tua kalian salah satu penggemar lagu ini. :)
Ya dan aku sekarang tahu dimana letak Teluk Bayur itu. Sebuah pelabuhan besar di kota Padang. Dan merupakan satu dari lima pelabuhan tersibuk di Indonesia. Pelabuhan ini berfungsi untuk keluar masuknya barang ekspor-impor dari dan ke Sumatra Barat.

Pelabuhan Teluk Bayur

Tepian Teluk Bayur

Setengah perjalanan kami singgah di rumah makan tepi jalan yang menyajikan gulai kepala ikan. Walau tempatnya sederhana hanya terbuat dari bangunan bambu, tapi betapa nikmat menyantap makan siang dengan suasana alam. Rasa gulai kepala ikan ini benar benar Padang banget rasanya asli deh. Klo biasanya kita bisa beli makanan di Rumah Makan Padang kebanyakan di daerah lain, ini rasanya asli nampol :D. Trus yang kliatan ijo ijo itu namanya sayur pakis. Sejenis tumbuhan dari keluarga paku-pakuan. Biasanya dimasak dengan sedikit kuah santan yang sedikit pedas. Tapi tetep mantap kok bagi pecinta makanan pedas.

Menu makan siang Gulai Kepala Ikan. 
Kondisi di sekitar warung tersebut masih banyak pepohonan. Maka terkadang kita akan menemukan seekor biawak liar yang melintas di kebun belakang dari warung makan tersebut.


Biawak liar 

  Selesai makan siang, perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Kabupaten Pesisir Selatan. Kurang lebih memakan waktu 4-5jam berjalanan menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan kami dipuaskan oleh pemandangan yang indah. Beruntung saat itu cuaca cerah. Dan perjalanan sesungguhnya dimulai. Yaitu jalur yang berkelok kelok dan naik turun. Kalau ada yang mabuk darat, wajib sedia obat ya.:) Namun walaupun begitu, pemandangan tetap saja indah. 


Jalan melingkar yang dilalui.


Kurang lebih 1jam lamanya kami menyusuri daerah di Pesisir Selatan , yang berbatasan dengan laut langsung. Kami pun melewati pemukiman penduduk yang dahulu turut menjadi korban tsunami di tahun 2004. Kita masih dapat menjumpai sisa sisa hempasan tsunami. Karena beberapa warga tidak lagi kembali ke tempat tinggalnya semula.


Pesisir Selatan

Setelah 5 jam perjalanan, kami memasuki wilayah desa yang dinamakan Desa Linggo Sari Baganti. Di desa inilah nantinya kawan sekolahku akan melangsungkan pernikahan mereka. Daerah ini sudah banyak dilalui kendaraan roda 4. Namun sebagian jalan yang dilalui masih sedikit terjal dan berbatu. Bila musim penghujan tiba maka jalanan akan menjadi becek. Desa ini sangat indah ternyata, kita tidak akan menemukan mini market seperti ind**art dkk. Sinyal pun terkadang sangat sulit disini. Namun bagiku, semua terbayar dengan keindahan alam yang tersaji langsung di depan rumah warga. 


Pohon,sawah,pegunungan


Ds Linggo Sari Baganti.



Selama 2 malam disana, aku tinggal di rumah warga setempat yang terhitung masih kerabat dari temanku ini. Jika malam tiba, suasana sangat sunyi. Hanya akan terdengar suara hewan malam. Apalagi sawah sawah ini terletak tepat di depan rumah warga. Terkadang di siang hari kita akan bertemu dengan sapi yang dilepaskan oleh pemiliknya untuk mencari makan di sekitar.

Rumah warga yang kutempati.

Jalan desa.

Sekitar pukul 06:00 pagi kami terbangung dengan suara kokok ayam yang bersahutan. Dan menyambut hari baru di tahun 2015 ini kami merasakan sinar entari begitu hangat menyapa. Tak lupa pula empunya rumah ternyata telah menyediakan sedikit makanan kecil untuk sarapan pagi kami beserta teh hangat. Wah sungguh nikmat kupikir. Jadi merasa sungkan kami yang masih muda begini bangun terlalu siang. 
(gambar makanan pagi)
Kami pun bergegas mandi bergantian karena pemilik rumah hanya memiliki satu unit kamar mandi. Dan yang perlu kalian tau, disini tidak seperti dirumah kalian yang airnya selalu jernih dan mengalir lancar. Ada kalanya kami mendapati air di bak mandi yang tersisa sedikit. Dan pada hari tertentu aliran air akan menjadi sedikit kekuningan. Teringat masa KKN dulu, melihat air bersih yang susah di dapat. Namun apa pun keadaannya harus tetap disyukuri. 
Selanjutnya selesai sarapan kami menuju area perkumpulan warga dimana semua orang sibuk membantu untuk mempersiapkan acara besar ini.
Ucapan karangan bunga pun mulai berdatangan satu persatu.
(gambar karangan bunga)
Tapi apakah kalian tau kalau karangan bunga disini sistemnya sewa lho, berbeda dengan di daerah jawa dimana kita benar benar memberikan satu papan besar karangan bunga. Sedangkan kalau di Sumatra sini, kita hanya sewa papan saja dan untuk nama dan kata kata ucapan cukup diganti saja dari pengguna sebelumnya. Maka dari itu beberapa hiasan karangan bunga terlihat kusam dan pudar warnanya. Mungkin karena sudah berpindah ke beberapa tangan penyewa dan belum diperbaharui lagi.



Comments

Popular posts from this blog

Gunung Payung Beach